13 Agustus, 2021

LAPORAN KEUANGAN DONATUR MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJIRIN PERIODE DARI BULAN /03-04-05-06-07/2021

🅰️. LAPORAN KEUANGAN DONATUR MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJIRIN PERIODE DARI BULAN /03-04-05-06-07/2021

💰UANG MASUK UNTUK KEPERLUAN PEMBANGUNAN MUSHOLLA/ SURAU AL-MUHAJIRIN :💰

1. 12/03/2021 INFAQ ke rekening BRI jumlah Rp 200.000 atas nama Sukandar dari bengkalis Melalui Dedy Al Musthofa

2. 22/03/2021 INFAQ ke rekening BRI jumlah Rp 200.000 atas nama almarhum Warsidi Bin Mulad melalui Dedy Al Musthofa

3. 17/04/2021 INFAQ ke rekening BRI jumlah Rp 200.000 atas nama almarhum Mhd Amin Bin Abdullah melalui Dedy Al Musthofa

4. 03/05/2021 INFAQ ke rekening BRI jumlah Rp 200.000 atas nama Sukandar dari bengkalis melalui Dedy Al Musthofa

5. 06/06/2021 infaq ke rekening BRI jumlah Rp 200.000 atas nama Sukandar dari bengkalis melalui Dedy Al Musthofa

6. 09/07/2021 infaq ke rekening BRI jumlah Rp 200.000 atas nama Sukandar dari bengkalis melalui Dedy Al Musthofa

==========

🅱️. UANG KELUAR KEPERLUAN PEMBANGUNAN SURAU/ MUSHOLLA AL-MUHAJJIRIN PERIODE MARET/03-04-05-06-07/2021

💰UANG KELUAR UNTUK KEPERLUAN PEMBANGUNAN MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJIRIN :💰

1. 12/03/2021 Uang keluar Rp 85.000 Belanja peralatan dalam surau Al-Muhajirin Keterangan Hamdan

2. 12/03/2021 uang keluar Rp 10.000 biaya administrasi keterangan Dedy Al Musthofa

3. 15/03/2021 uang keluar Rp 100.000 belanja peralatan dalam surau Al-Muhajirin keterangan Hamdan

4. 05/07/2021 uang keluar Rp 103.000 belanja Token listrik suaru Al-Muhajirin Keterangan Dedy Al Musthofa

5. 08/08/2021 uang keluar Rp 100.000 belanja peralatan dalam Surau Al-Muhajirin keterangan Dedy Al Musthofa

=========

🇮🇩TOTAL JUMLAH UANG MASUK= Rp, 1.200.000
🇮🇩TOTAL JUMLAH UANG KELUAR= Rp, 398.000

SALDO AKHIR BULAN JULI/07/2021

💰TOTAL JUMLAH SALDO= Rp, 802.000

==========

Adapun Bagi yang ingin berinfak dan menjadi bagian dari donatur Pembangunan Musholla/ Surau AL-MUHAJIRIN 

SILAHKAN MENGHUBUNGI KOORDINATOR UMUM

👳DEDY AL MUSTHOFA ☎️+62 812-7757-4668

Bagi yang lebih Rezekinya Silahkan kirim Infaq atau Bersedekahl untuk Surau AL-MUHAJIRIN di No tersebut:

🏦Bank BRI atas nama DEDY BIN MUSTAPA
No rekening, 3387-0103-5542-533

📢KONFIRMASI
👳Dedy Al Musthofa ☎️+62 812-7757-4668

Semoga yang Berinfaq Atau Bersedekah baik berupa ilmu, uang dan apapun itu guna berlangsung nya kegiatan pembangunan musholla AL-MUHAJJIRIN Semoga di catat oleh Allah SWT sebagai amal jariyahnya dan diMudahkan rezeki nya, dimudahkan segala urusan nya, barokah hidupnya barokah keluarganya fiddunya wal akhiroh.

Aamiinn ya Rabbal alamiin.....

📚SUMBER :

KOORDINATOR UMUM MUSHOLLA AL-MUHAJIRIN
👳Dedy Al Musthofa ☎️+62 812-7757-4668


24 Maret, 2021

Pembangunan musholla Al-Muhajirin Desa Sekodi Dusun Nyatuh jln Ibrahim

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BARAKAATUH

ALHAMDULILLAH segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi nikmat Kepada BPK/ibuk/aBG/adik. Dan segenap hadirin semua ny.

"Untuk itu Kami dari jama'ah surau AL-MUHAJJIRIN mengharapkan BANTUAN DANA dan ULURAN tangan dari semua pihak. seikhlasnya untuk keperluan rencana pembangunan surau Al Muhajjirin

🇮🇩1_ Bagi yang ingin BERINFAQ/BERSEDEKAH untuk MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJJIRIN berupa UANG atau bahan material dan dll.

SILAHKAN MENGHUBUNGI NOMOR TELEPON/WHATSAPP :

✅A.n Dedy Al Musthofa ☎️+62 812-7757-4668

🇮🇩2_ Bagi yang ingin BERINFAQ/BERSEDEKAH untuk MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJJIRIN berupa UANG Dan transfer

SILAHKAN SALURKAN INFAQ TERBAIKMU :

✅BANK BRI NO REK: 3387-0103-5542-533

A.n: DEDY BIN MUSTAPA
Alamat: DUSUN NYATUH RT 001/RW 005 DESA SEKODI KECAMATAN BENGKALIS

CATATAN ;
Setelah di Transfer Silakan di Konfirmasi ke SMS Center :

✅A.n Dedy Al Musthofa ☎️+62812-7757-4668

UNTUK DILAKUKAN PENGECEKAN DAN PENCATATAN.

"Oleh karena itu, untuk terleksankannya rencana pembangunanan MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJJIRIN, kami jama'ah SURAU AL-MUHAJJIRIN, sangat mengharapkan bantuan dana/uluran tangan seikhlasnya dari semua pihak.

ADAPUN LETAK DAN ALAMAT SURAU AL-MUHAJJIRIN YANG AKAN DIBANGUN ADALAH :

DESA SEKODI DUSUN NYATUH jln IBRAHIM RT. 001 RW. 005 KECAMATAN BENGKALIS KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh”
(HR. Muslim no. 1631)

KOORDINATOR : 
Dedy Al Musthofa [Dedy]

Sekian terimakasih :

Wassalamu'alaikum... Wr Wb.



03 Maret, 2021

LAPORAN KEUANGAN DONATUR MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJIRIN PERIODE DESEMBER/12/2020 Sampai Bln 02/2021:

🅰️. LAPORAN KEUANGAN DONATUR MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJIRIN PERIODE DESEMBER/12/2020 Sampai Bln 02/2021:

UANG MASUK UNTUK KEPERLUAN PEMBANGUNAN MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJIRIN :

1. 12/02/2021 INFAQ ke rekening BRI jumlah Rp 300.000 atas nama Sukandar/dari bengkalis Melalui Dedy Al Musthofa

2. 21/02/2021 INFAQ ke rekening BRI jumlah Rp 100.000 atas nama Sadri/dari Sekodi Melalui Dedy Al Musthofa

3. 26/02/2021 INFAQ ke rekening BRI jumlah Rp 200.000 atas nama Sukandar/dari bengkalis. Melalui Dedy Al Musthofa

4. 04/12/2020/ INFAQ ke rekening BRI jumlah Rp.1.500.000 atas nama Susi/dari Malaysia. melalui Dedy Al Musthofa

TOTAL JUMLAH UANG MASUK UNTUK KEPERLUAN PEMBANGUNAN SURAU/MUSHOLLA AL-MUHAJIRIN

👉JUMLAH UANG MASUK Rp, 2.100.000

==========

🅱️. UANG KELUAR KEPERLUAN PEMBANGUNAN SURAU/MUSHOLLA AL-MUHAJJIRIN

1. 11/12/2020/ Uang keluar Rp 1.500.000
Keterangan, pak Atan Samah

2. 05/02/2021/ uang keluar Rp 100.000 keterangan. Pak Atan Samah

3. 02/03/2021/ Uang keluar Rp 150.000 Belanja peralatan dalam surau Al-Muhajirin keterangan. Dedy Al Musthofa

4. 02/03/2021/ uang keluar Rp 50.000 
Biaya administrasi keterangan. Dedy Al Musthofa

TOTAL JUMLAH UANG KELUAR UNTUK KEPERLUAN PEMBANGUNAN SURAU/MUSHOLLA AL-MUHAJJIRIN

👉JUMLAH UANG KELUAR Rp, 1.800.000

==========

🇮🇩JUMLAH UANG MASUK= Rp, 2.100.000
🇮🇩JUMLAH UANG KELUAR= Rp, 1.800.000

💰JUMLAH SALDO Rp= 300.000

SALDO AKHIR BULAN PEBRUARI/02/2021

==========

ADAPUN Bagi yang ingin berinfak dan mnjadi bagian dari donatur PEMBANGUNAN MUSHOLLA/SURAU AL-MUHAJIRIN bisa MENGHUBUNGI

☎️Dedy Al Musthofa +62812-7757-4668

Bagi yang lebih REZEKINYA Silahkan kirim INFAQ/BERSEDEKAH ke rekening SURAU AL-MUHAJIRIN di no tersebut:

🏦Bank BRI atas nama DEDY
No rekening, 3387-0103-5542-533

Semoga yang BERINFAQ/BERSEDEKAH baik berupa ilmu, uang dan apapun itu guna berlangsung nya kegiatan pembangunan musholla/surau AL-MUHAJJIRIN SEMOGA di catat oleh Allah SWT sebagai amal jariyah di MUDAHKAN rezeki nya, dimudahkan segala urusan nya, barokah hidupnya fiddunya wal akhiroh..... 

Aamiinn yrb aalamiinn.....

SUMBER :
https://wa.me/c/6281277574668

16 Februari, 2021

JADWAL KHATIB BULAN FEBRUARI/02 TA 2021 sholat Jum'at Masjid Al-Muttaqin DESA SEKODI


JADWAL KHATIB BULAN FEBRUARI/02 TA 2021 sholat Jum'at Masjid Al-Muttaqin DESA SEKODI

🌹Assalamu'alaikum....wr.. wb.🌹

ALHAMDULILLAH Kepada pencinta nabi Muhammad Saw. Kepada yang terhormat. bapak-bapak abg-aBG kawan-kawan & segenap hadirin semua ny...!!!

ADAPUN jadwal tentang pelaksanaan KHATIB sholat Jum'at Di MASJID AL-MUTTAQIN Dusun PERMAI DESA SEKODI BULAN FEBRUARI/02 TAHUN 2021

"JADWAL KHATIB sholat Jum'at Tahun 2021 Masjid Al-Muttaqin DESA SEKODI.

*🌺Bulan FEBRUARI/02🌺*

🕋Tgl: 05- 02- 2021/
KHATIB USTADZ: FERI GUNAWAN

🕋Tgl: 12- 02- 2021/
KHATIB USTADZ: SYAIFUL. S. Pd

🕋Tgl: 19- 02- 2021/
KHATIB USTADZ: SURYADI. S. Sos

🕋Tgl: 26- 02- 2021/
KHATIB USTADZ: RIKO DAMUDI. S. Pd

_*🌺CATATAN :🌺*_

🅰️JADWAL BISA BERUBAH SEWAKTU-WAKTU SESUAI SETUASI DAN KONDISI.

🅱️JIKA NAMA YANG SUDAH DIJADWALKAN BERHALANGAN AGAR BISA MEMBERI INFORMASI SECEPATNYA 

[Dedy Al Musthofa/ KONFIRMASI DI GRUP REMAJA MASJID AL-MUTTAQIN]

"Diharapkan BPK-BPK aBG-abg kawan-kawan & HADIRIN semuanya agar bisa bersiap pada hari/waktu yang sudah ditentukan UNTUK BERKHUTBAH JUM'AT Di MASJID AL-MUTTAQIN...!!!

_🌹SEKIAN.....🌹_

*INFORMASI SARAN & KERITIKKAN TENTANG MASJID AL-MUTTAQIN...!!!*

*💮HUBUNGI...!!!💮*

1️⃣Ketua DKM: 
ICOL HP: +62822-1141-4377

2️⃣Bendahara DKM: 
RABANI HP: +62822-6854-8486

3️⃣Sekretaris DKM:
ANASRI FITRIA HP: +62823-8483-8776

4️⃣Koordinator DKM: 
DEDY AL MUSTHOFA HP: +62812-7757-4668

_🌼DITETAPKAN🌼_
TGL: -15 -01 -2021/ MASJID AL-MUTTAQIN

Terimakasih...!!!

_*🌹SUMBER:🌹*_ 
REMAJA MASJID AL-MUTTAQIN

WASSALAMU'ALAIKUM.....wr wb....!!!

23 Juni, 2020

KH. ZAINI MUN'IM; KETIKA HARUS MEMILIH ANTARA ILMU DAN EMAS


KH. ZAINI MUN'IM; KETIKA HARUS MEMILIH ANTARA ILMU DAN EMAS

Setelah mondok di pesantren Tebuireng, Jombang kepada Hadhratus Syekh Hasyim Asy’ari, beliau berangkat ke Mekkah bersama keluarganya. Beliau mendalami lagi ilmu fiqih, ushul fiqh, hadis, tafsir, lughah, balaghah dan tasawuf, mengaji kepada beberapa syekh, diantaranya Syekh Umar Hamdani al-Maghribi, Syekh Alwi Al Maliki, Syekh Said al-Yamani, Syekh Umar Bayunid, Syekh Syarif bin Ghulam Makkah dan masyayikh lainnya.

Suatu saat, ketika mondok dan mengaji kepada Syekh Syarif Ghulam, guru tasawuf beliau, beliau tidak hanya sekedar menyerap ilmunya saja, tapi beliau juga menjadi khadam (abdi dalem) nya. Sebagaimana biasanya, suatu saat ketika beliau sedang mengisi air di kamar mandi sang guru dengan menimba air dari sumur ternyata embernya tidak berisi air, namun berisi segumpal emas. Oleh beliau emas itu tidak lantas diambilnya namun justru dikembalikan lagi ke dalam sumur.

Jawab beliau, “karena yg saya inginkan adalah ilmunya, bukan emas itu”.

Subhanallah, mungkin ini termasuk ujian dari guru beliau dan KH. Zaini bisa melewatinya dgn ketajaman hati dan pikiran yg Allah berikan pada beliau.

Dalam kisah di atas, KH. Zaini tidak hanya mengaji kepada gurunya tapi juga berkhidmah dan shuhbah kepada guru beliau, sebagaimana dalam suatu maqalah:

العلم بالتعلم والبركة بالخدمة

“Al-‘ilmu bitta’allum, wal barakah bil khidmah"

Ilmu diperoleh dgn belajar, sedangkan keberkahan diperoleh dgn ber-khidmah (mengabdi).”

Berkhidmah atau shuhbah dapat memperkuat hubungan murid dengan sang guru, ikhwan dgn Mursyidnya, dan mendapat keridhaan sang guru. Nah ketika sang murid mendapat keridhaan sang guru, maka itulah salah satu alamat dari tanda kesuksesan sang murid di masa depan.

Bahkan dalam dunia sufi posisi “khidmah” dan “shuhbah” ini sangat penting, karena di sinilah para murid akan mendapatkan asrar (rahasia), ilmu dan hikmah dgn cepat jika sang murid memang bersungguh2 dan senantiasa membersihkan hatinya.

Dikutip dari buku KH. Zaini Mun’im; Pengabdian dan Karya tulisnya, oleh: Maghfur Ramdhani (Ketua PK MATAN Universitas Nurul Jadid). 
https://jatman.or.id
JAMA'AH SARINYALA

KISAH PENDOSA YANG MENDAPAT SYAFA'AT BERKAT SHOLAWAT


KISAH PENDOSA YANG MENDAPAT 
SYAFA'AT BERKAT SHOLAWAT

Habib Umar bin Salim bin Hafidz:

Dikisahkan ada seseorang yang melakukan perjalanan dengan Ayahnya. dalam perjalanan tersebut Ayahnya sakit dan meninggal dunia diperjalanan.yang membuat si anak ini terkejut dari kematian Ayahnya. Bahwasanya wajah Ayahnya langsung berubah menjadi hitam kelam.

Maka si anak makin bertambah sedih atas musibah yang makin besar ini. Maka dia berpikir" seandainya aku minta bantuan kepada penduduk kampung yang ada di sekitar sini untuk mengurus jenazah Ayahku  tetapi aku malu meperlihatkan kepada mereka wajah Ayahku yang menjadi Hitam".

Dikarenakan stres yang mendera pikirannya diapun mengantuk dan tertidur ditempat itu.lantas diapun bermimpi dalam mimpinya dia melihat seseorang manusia yang demikian putih, indah dan Tampan.

Maka orang tersebut mendatangi jenazah Ayahnya yang sedang terbaring dan mengusap wajah Ayahnya dan berubah dari yang tadinya hitam kelam berubah menjadi bercahaya dalam mimpinya.

Maka si anak bertanya siapa gerangan engkau yang mana dengan berkat engkau Alloh Ta'ala mengangkat kesulitanku ini?

Maka dijawab"Aku adalah Nabimu Muhammad.

"Dahulu Ayahmu adalah orang yang banyak berbuat dosa dan kesalahan akan tetapi disamping itu dia banyak berSholawat kepadaku maka Aku simpan ini, dan Aku setelah mengetahui dia wafat Aku meminta Syafa'at kepada Alloh Swt dan Alloh Ta'ala mengijinkan Aku untuk menolong orang ini"

Maka ketika terbangun dia dapati wajah Ayahnya telah berubah menjadi putih.
dan sejak saat itu sianak selalu menyibukkan dirinya dengan berSholawat dan Salam terhadap Nabi Muhammad dalam setiap keadaan apapun.

Dia berjumpa didengar dan dilihat oleh sebagian para Sholihin yang berada di Mekkah.

Seorang Ulama Mekkah melihat dia, diapun bertanya" Aku selalu melihat engkau selalu setiap waktu setiap jalan baca Sholawat , ketika  Tawaf engkau sibuk dengan Sholawat,, apakah engkau tidak tahu apapun kecuali hanya Sholawat saja?, maka dikatan "sesungguhnya  Aku punya kisah tersendiri atas Sholawat  kepada Nabi Muhammad maka diapun menceritakan kisah sang Ayahnya ini.

(Terjemahan oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan)

Allohuma Sholi a'la Sayyidina Muhammad

Credit: Kalam Habaib

KEAJAIBAN SHOLAWAT DI ALAM BARZAKH


KEAJAIBAN SHOLAWAT DI ALAM BARZAKH

Dikisahkan oleh Syekh Syibli bahwa setelah salah seorang tetangganya wafat, ia bermimpi tentangnya, dan dalam mimpi itu ia bertanya kepada tetangganya itu: "Apa yang Allah perbuat terhadapmu?"

Ia menjawab: "Wahai Syekh! Kengerian-kengerian luar biasa yang aku saksikan di dalam Kubur dan aku dibuat sangat menderita karenanya. Aku sampai tidak bisa berkata-kata ketika kulihat Malaikat Munkar wa Nakir.

Aku berkata dalam diriku, "Aduhai celakanya aku! Apakah azab benar-benar telah menghampiriku?".

"Di dunia aku adalah seorang Muslim dan wafat dalam agama Islam, kemudian kedua malaikat itu memintaku menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan keras".

Tiba-tiba muncul seorang lelaki berwajah indah dan beraroma harum dan menempatkan dirinya di antara aku dan kedua Malaikat, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kedua Malaikat itu dan dengan cara terbaik.

Kemudian aku bertanya kepadanya, "Siapa engkau?" Semoga Allah merahmatimu".

Ia menjawab, "Aku adalah sholawat :

*۞اَللّٰهُـــــمَّ صَلِّ عَلَی سَيِّـــــدِنَا مُحَمَّـــــدٍ وَعَلَی آلِ سَيِّـــــدِنَا مُحَمَّـــــدٍ۞*

"Allohumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad", yang engkau selalu baca untuk Muhammad dan Keluarga Muhammad".

*"Sesungguhnya aku diperintahkan dan diberi tanggung jawab untuk menolong dan menyelamatkanmu kapanpun engkau butuhkan dan dimanapun'."*

*Dari Al-Imam Abu Abdillah Ja'far ash-Shadiq Ra :*

Jika waktu telah memasuki Hari Kamis malam, maka para malaikat turun dari langit dengan membawa pena yang terbuat dari emas dan juga lembaran-lembaran yang terbuat dari perak.

Mulai Hari Kamis malam itu, hingga terbenamnya matahari di Hari Jum'at, para malaikat tersebut tidak menulis apapun diatas lembaran-lembaran yang terbuat dari perak dan bertintakan emas itu kecuali amalan bacaan shalawat kita kepada Baginda Rasulullah ﷺ.

*[Kitab : Al-Sholawat Miftah Hallil Musykilat, Ali Qazweini, hal : 96]*

*۞اَللّٰهُـــــمَّ صَلِّ عَلَی سَيِّـــــدِنَا مُحَمَّـــــدٍ وَعَلَی آلِ سَيِّـــــدِنَا مُحَمَّـــــدٍ۞*

MAULANA HABIB LUTHFI BIN YAHYA: KISAH SEBUTIR NASI:


MAULANA HABIB LUTHFI BIN YAHYA:
KISAH SEBUTIR NASI

Dalam perjalanan mencari ilmu, Guru Mulia Maulana Habib Lutfi Bin Yahya-Pekalongan berjumpa dengan seorang Kiai Sepuh. Habib Luthfi muda terheran-heran ketika menyaksikan akhlak kiai sepuh yang luar biasa. Yakni, ketika dhahar (makan), ada butiran nasi yang terjatuh lalu dipungut dan dikembalikan ke piring untuk dimakan kembali.

"Kenapa harus diambil, Yai. Kan cuma nasi sebutir," ujar Habib Luthfi muda penasaran.

"Lho, jangan dilihat sebutir nasinya, Yik. Apa kamu bisa bikin nasi sebutir ini, bahkan seper seribu menir saja?"

Deg, terdiamlah Habib Luthfi muda. Kiai sepuh melanjutkan, "Ketahuilah, Yik. Pada saat kita makan nasi, sesungguhnya Gusti Allah telah menyatukan banyak sekali peran. Nasi itu namanya Sego Bin Beras Bin Gabah Al Pari. Mulai dari mencangkul, menggaru, meluku, menanam benih, memupuk, menjaga hama hingga memanen ada jasa banyak sekali orang. Kemudian mengolah gabah menjadi beras, dari beras menjadi nasi juga banyak sekali peran hamba Gusti Allah di sana."

"Ketika ada satu butir nasi, atau menir sekalipun yang jatuh, ambillah. Jangan mentang-mentang kita masih banyak cadangan nasi. Itu bentuk dari takabur, dan Gusti Allah tidak suka dengan manusia yang takabur. Selama jatuh tidak kotor dan tidak membawa mudlorot bagi kesehatan kita, ambillah, satukanlah dengan nasi lainnya, sebagai bagian dari syukur kita".

Habib Luthfi muda pun menyimak lebih dalam. "Karena itulah ketika akan makan, diajarkan doa: Allahumma bariklana (Ya Allah semoga Engkau memberkati Kami). Bukan Allahumma barikli (Ya Allah semoga Engkau memberkatiKU), walaupun sedang makan sendirian."

"'Lana' itu maknanya untuk semuanya, mulai petani, pedagang, pengangkut, pemasak hingga penyaji semuanya termaktub dalam doa tersebut. Jadi doa tersebut, merupakan ucapan syukur serta mendoakan semua orang yang berperan dalam kehadiran nasi yang kita makan."

"Dan satu lagi, mengapa wong makan kok ada doa: waqina ‘adzaban nar (jagalah kami dari siksa Api neraka).
Apa hubungannya hubungannya kok makan dengan neraka?kan nggak nyambung.

Nggih Yai, kok bisa ya?
Tanya Habib luthfi muda penasaran,

Begini Yik, kita makan ini hanyalah wasilah.yang memberi kenyang itu.Gusti Allah. Kalau kita makan dan menganggap bahwa yang mengenyangkan kita adalah makanan yang kita makan,maka takutlah.itu akan menjatuhkan kita pada kemusyrikan. Dosa terbesar bagi orang yang beriman.

"Astagfirullahal Ad'him.." batin Habib luthfi muda ,tidak menyangka maknanya sampai sedalam itu.

"Bayangkan saja, Yik. Demikian juga jika kita makan dan minum.tapi tidak dijadikan hilang rasa lapar dan terhapus dahaga karena tidak dikehendaki Gusti Allah. Apa jadinya.?

Semoga Maulana Habib Luthfi Selalu Sehat.dan diberi Umur yang Barokah.Aamiin🤲

Kisah diambil dari Dawuh Habib Luthfi.
di Pekalongan.22 Januari 2017.

Semoga Bermanfaat.🙏

Fadilah Shalawat Thibbil Qulub (Shalawat Syaikh Ahmad ad-Dardir)

Fadilah Shalawat Thibbil Qulub (Shalawat Syaikh Ahmad ad-Dardir)

Ijazahan Qubro Sholawat Thibbiil Qulub/Sholawat Syifa dari Sayyid Muhammad Alwy Al-Maliki Makkah, Al-Habib Zen bin Ibrahim bin Smith Madinah Munawarrah, Al-Habib Umar bin Hafidz Tarim Hadlromaut Yaman, Al-Habib Qurasy bin Qosim Baharun, Al-Habib Miqdad bin Qosim Baharun, Al-Habib Muhammad Nizar Al-Athos, Al-Habib Muhammad Barakbah, Al-Habib Faisal Asseghaf, sy ijazahkan untuk para pecinta/Mahabbati Rosululloh, Sayyiduna Nabi Muhammad Saw.

Sholawat Tibbil Qulub/Syifa :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN TIBBIL QULUBI WADAWAIHA, WA’AFIYATIL ABDANI WASYIFA’IHA, WA NURIL ABSHORI WADLIYAIHA, WA ‘ALA AALIHI WASHOHBIHI WA SALLIM

Ya Allah….curahkanlah rahmat kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya dan sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya. Semoga sholawat dan salam tercurahkan pula kepada keluarga serta para shahabat-shahabatnya.

Kesaksian dari para pengamal Sholawat Thibbil Qulub yang istiqomah Da’I Kondang Ustadz Yusuf Mansyar Tak seperti biasanya, Ustadz Yusuf Mansyur yang datang untuk mengisi pengajian atau memberikan ceramah agama, kali ini (07/01/14) beliau mampir di Pesantren Zainul Hasan Genggong dalam rangka menjadi imam Sholat Magrib di masjid Al-Barokah Pesantren Zainul Hasan. Beliau datang sekitar pukul 17.25. Selanjutnya solat Magrib dilaksanakan pada pukul 17.30.

Selesai sholat dan membaca sholawat Tibbil-Qulub beliau memberikan sambutan. Beliau menceritakan bahwa seorang santri harus merasakan keajaiban pesantren. Seorang santri tidak boleh merasa minder atau putus asa ketika suatu saat ia kehabisan bekal.

Suatu saat santri-santri kehabisan bekal, pegang itu wadah nasi. Bacakan sholawat bersama-sama. Saya jamin tetap kosong. ucapnya diikuti oleh tawa meriah semua santri dan warga sekitar yang ikut melaksanakan jama’ah Magrib di Masjid Al-Barokah.

Tapi jangan dilihat wadah nya, lihatlah apa yang akan terjadi. Setelah selesai membaca sholawat datang seseorang menawarkan nasi, itulah barokah sholawat yang akal tidak akan pernah sampai untuk merumuskannya, lanjutnya.

Beliau juga menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang santri di PP. Darul Qur’an, yang ia asuh, mendapatkan musibah tertimpa pintu lemari sehingga menyebabkan batang tengkorak kepalanya putus. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa akan dilaksanakan operasi penyelamatan. Operasi tersebut dalam rangka menyelamatkan jiwa santri dengan konsekuensi kebutaan dan kelumpuhan seumur hidup.

Setelah mengetahui vonis yang diputuskan oleh dokter, seluruh santri bersama-sama menghatamkan Al-Qur’an dan membaca sholawat Thibbil-Qulub. Beberapa jam kemudian, santri tersebut, yang telah koma kurang lebih sehari, bisa mengikuti bacaan sholawat. Setelah membaca sholawat ia koma lagi.

Dokter yang memperkirakan ia akan lumpuh selamanya pun terkagum-kagum dengan perkembangan tersebut. Setelah beberapa hari, batang tengkorak kepala tersebut bisa diganti dengan batang tengkorak dari plastik. Alhamdulillah, sekarang santri tersebut sudah sembuh, bisa berjalan dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Jauh dari yang diperkirakan oleh dokter, Ini adalah khasiat atau mu’jizat sholawat Tibbil Qulub.
Cara pengamalan 3x setiap ba’da sholat fardlu.

1. Wasillah : Kepada Kanjeng Nabi Saw.
2. Kepada kanjeng Syaikh Abdul Qodir Jailani
3. Kepada shohibul Sholawat thibil qulub/pengarang sholawatnya Syaikh Ahmad ad-Dardir
4. Kepada Man ajazani : Sayyid Muhammad Alwy Al-Maliki Makkah Mukarramah, 
Al-Habib Zen bin Ibrahim bin Smith Madinah Munawarrah, 
Al-Habib Umar bin Hafidz Tarim Hadlromaut Yaman, 
Al-Habib Qurasy bin Qosim Baharun,
Al-Habib Miqdad bin Qosim Baharun, Al-Habib Muhammad Nizar Al-Athos, Al-Habib Muhammad Barakbah,
Al-Habib Faisal Asseghaf.

Jika saudara/saudari mau tau tentang faedah-faedah sholawat ini, buka kitab-kitab di bawah ini.

(Kitab Al-Asrar al-Rabbaniyyah Wa al-Fuyudh al-Rahmaniyyah Ala Shalawat al-Dardiriyyah Syaikh Ahmad Bin Muhammad al-Showi)

(Kitab Mafatih al-Sa’adat Fi al-shalawat Ala Sayyid al-Sadat Habib Abu Bakar Bin Abdullah al-Atthos)

(Kitab Saadah al-Darain Fi Shalat Ala sayyid al-kaunain Asy-Syaikh Yusuf Bin Ismail al-Nabhani)

JANGAN BERGANTUNG/MENGANDALKAN GELAR, NASAB, KETURUNAN SYARIFAH/SAYYID!.

JANGAN BERGANTUNG/MENGANDALKAN GELAR, NASAB, KETURUNAN SYARIFAH/SAYYID!

•Cara Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al Maliki mendidik putranya, Sayyid kecil.
"Suatu hari, Abuya Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al Maliki Al Hasani pernah memarahi putranya yang bernama Sayyid 'Alawi bin Muhammad ketika hendak pamit berangkat sekolah SD (perumpamaan tingkatan sekolah di Indonesia) dengan membawa buku tulis.
.
Abuya Sayyid Muhammad melihat buku tulis yang dibawa oleh Sayyid 'Alawi kecil, Kemudian menatap tulisan yang terpampang di sampul buku tulis tersebut. "Ass Sayyid 'Alawi", Demikian bunyi tulisannya. Abuya langsung mencoret lafadz "Ass Sayyid" seraya berkata, "Jangan gunakan gelar Sayyid sekarang, Nanti saja kalau kamu sudah mengajar dan berdakwah!".
.
Usai (sesudah) mencoret, Abuya bergegas menelpon salah satu guru yang mengajar di sekolah Sayyid 'Alawi (guru tersebut masih santrinya Abuya) begitu telpon diangkat Abuya langsung menasehati guru itu, "Mulai sekarang kamu jangan memanggil 'Alawi dengan Sayyid, Panggil saja 'Alawi, Biar dia belajar dulu karena belum waktunya memakai gelar Sayyid. Kamu lihat si Fulan bin Fulan (Abuya menyinggung seseorang anak Ulama besar yang ketika itu kurang beradab akibat sejak kecilnya diagung-agungkan oleh santri-santri ayahnya sehingga ia tidak pernah mengalami khidmah dan menjadi sombong)".
.
Demikianlah, Salah satu cara Abuya mendidik putra-putranya agar belajar mandiri (berdikari) dan tidak mengandalkan (bergantung) kepada orang tua, Termasuk mengandalkan nasab dalam hal apapun. Lalu, Bagaimana dengan seseorang yang menggelari dirinya sendiri dengan sebutan Habib (ulama dari kalangan Sayyid!?)".
.
(Muhaddist Haramain Al Imam Sayyid Muhammad bin 'Alawi bin 'Abbas Al Maliki Al Idris Al Hasani).
#DakwahWarosatulAnbiya.

22 Desember, 2019

Kisah Al-Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi Seiwun dan Kiai Hasan Sepuh Genggong


Kisah Al-Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi Seiwun dan Kiai Hasan Sepuh Genggong

Ada sebuah kisah menarik. Diceritakan ketika zaman Alhabib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi Seiwun (pengarang Maulid Simthuddurar). Ada seorang Auliya Allah bernama Al habib Abdul Qadir bin Quthban Assegaf. Habib Abdul Qadir bin Quthban adalah seorang ‘alim yang sangat gemar bersilaturrahim kepada para ‘alim ulama’ para waliyullah yang masih hidup di zaman tersebut. Kegemaran Beliau bersilaturrahim bukan hanya terbatas di wilayah Hadramaut Yaman saja. Tapi juga sampai ke pulau Jawa Indonesia.

Bahkan juga sampai ke kediaman Hadratussyaikh KH. Mohammad Hasan Sepuh Genggong Probolinggo. Ketika tiba dikediaman Kiai Hasan Sepuh Genggong, Habib Abdul Qadir disambut dengan ramah. Beliau berdua pun berbincang bincang. Tentunya dengan bahasa arab.
Sampai pada akhirnya kiai Hasan sepuh bertanya, yang kalau diterjemahkan :
“Habib, bagaimana kabarnya Habib Ali Habsyi Seiwun (pengarang Simtudhurar)??”.

Ditanya seperti itu, Habib Abdul Qadir terkejut dan terheran-heran. Bagaimana bisa Kiai Hasan Sepuh Genggong mengenali Habib Ali Habsyi Seiwun. Sedangkan Kiai Hasan secara dzahir tidak pernah ke Hadramaut Yaman, dan Habib Ali Habsyi Seiwun juga tidak pernah ke Indonesia.
Seolah mengetahui apa yg ada dihati Habib Abdul Qadir, Kiai Hasan kembali berkata :
“Habib Ali Al Habsyi Seiwun itu kulitnya seperti ini … (menyebutkan), wajahnya begini… (menyebutkan), kalau duduk seperti ini… (disebutkan), jalannya seperti ini… (disebutkan), di kediaman Habib Ali rumahnya seperti ini… (menyebutkan), di depannya ada masjid bernama Masjid Riyadh dan tiangnya ada… (menyebutkan)”.

Dan bertambah kagumlah Habib Abdul Qadir bin Quthban. Takjub oleh Kiai Hasan Sepuh Genggong yang menyebutkan secara detail seolah-olah beliau sangat akrab dengan Habib Ali Habsyi dan mengetahui keadaan rumahnya di kota Seiwun Hadramaut Yaman. Padahal Kiai Hasan tidak pernah sampai ke sana. Lalu setelah cukup berbincang-bincang, tak lama kemudian, Habib Abdul Qadir bin Qithban pun berpamitan pulang.

Ketika sekembalinya dari tanah Jawa ke Yaman. Habib Abdul Qadir bin Quthban mengunjungi kota Seiwun, untuk bertemu dengan Al Imam Al ‘Arifbillah Al Habib Ali Al Habsyi Seiwun.
Ketika sudah sampai di kediaman Habib Ali Habsyi dan berhadapan dengan beliau, ditengah-tengah perbincangan, Habib Ali Al Habsyi bertanya :
“Wahai Sayyid Abdul Qadir, apakah di Jawa engkau bertemu dengan seorang syekh bernama Hasan Jawi (Jawa maksudnya)”.

Habib Abdul qadir teringat pertemuannya dengan Kiai Hasan Sepuh Genggong. Beliau mengangguk meng-iyakan. Lalu Habib Ali Al Habsyi berkata :
“Syekh Hasan itu kulitnya seperti ini… (menyebutkan), wajahnya seperti ini… (menyebutkan), duduknya begini… (mencontohkan), jalannya seperti ini… (menceritakan), dan di rumahnya begini… (menjelaskan)”.

Hingga Habib Abdul Qadir takjub dengan detailnya penjelasan Habib Ali Seiwun tentang Kiai Hasan seolah keduanya adalah sahabat karib yang akrab. Padahal Habib Ali Seiwun tidak pernah ke indonesia. Subhanallah.

Nah, begitulah jika seseorang telah diangkat derajatnya oleh Allah. Maka dunia tidak lebih hanyalah barang mainan saja. Meski dahulu tidak ada alat komunikasi seperti handphone ataupun TV,
namun berkat karomah dari Allah, beliau berdua telah saling mengenal dalam dunia bathiniyah.

Ketika haul Al ‘Arifbillah Al Habib Ali Habsyi Seiwun Shahib Simutuddurar di kota Solo, salah satu dari cucu Kiai Hasan Sepuh Genggong sowan ke Habib Anis bin Alwi bin Al Imam Ali Al Habsyi Seiwun. Cucu dari Habib Ali Simtudhurar.

Saat Habib Anis tahu bahwa yang sowan adalah cucu Kiai Hasan Genggong. Habib Anis tersenyum sambil berkata “Kakekku dan kakekkmu mempunyai ta’aluq bathin”.
Semoga kita yang penuh dengan dosa ini diampuni oleh Allah. Dan dengan rahmat Allah semoga kita dilayakkan untuk dimasukkan kedalam rombongan beliau para guru-guru kita auliya’ washalihin. Aamiin.

Al-Faatihah

Sumber : Majelis Al khair wal Barokah Genggong

KISAH SINGKAT KIAI ABDUL JALIL DENGAN PESONA KEZUHUDANNYA


KIAI ABDUL JALIL DENGAN PESONA KEZUHUDANNYA
=============================

Nun Abdul JalilNun Abdul Jalil (panggilan mulia bagi kiai), begitulah sapaan akrab sosok kiai putra pasangan Kiai Ahmad Nahrawi dan Nyai Marfu’ah ini. Pernikahan beliau dengan nyai MiYATUN dikaruniai seorang putri bernama HIMMATUL AZDIMMAH yang meninggal pada usia tujuh bulan. Peristiwa meninggalnya putri beliau cukup ironis, jika kebanyakan para orang tua berdo’a untuk kesehatan dan keselamatan anaknya, beliau justru berdo’a agar putri semata wayangnya segera meninggal dan kembali ke sisi Allah S.W.T. beliau mendo’akan putrinya meninggal agar kelak di akhirat menjadi “wildan” (anak yang menunggu kehadiran orang tuanya untuk masuk surga). Beliau wafat dalam usia 27 tahun pada selasa wage tanggal 1 Robi’ul Awal 1378 H yang bertepatan dengan tanggal 10 Juni 1967 M.


Di komplek pesantren Zainul Hasan Genggong, beliau dikenal sebagai kiai yang ‘alim dengan pesona kezuhudannya, hal tersebut dapat kita lihat dari kehidupan sehari-harinya yang sangat sederhana.Dirumahnya yang hanya berdinding “gedek” (anyaman bambu) dengan lantai tanpa ubin dan beralaskan tikar yang telah robek disana-sini, bahkan tempat tidur beliaupun terbuat dari bambu tanpa kasur. Namun, beliau senantiasa hidup ikhlas dan selalu berserah diri kepada Allah sang pencipta alam semesta. Pesona kezuhudan beliau juga nampak pada pakaiannya yang compang-camping penuh tambalan. Jahitan demi jahitan baju dan sarung beliau sangat tidak rapih bahkan kontras antara benang jahitan dan baju yang ditambal. Dikalangan para santri dan masyarakat sekitar, beliau dikenal sebagai sosok kiai yang enggan memikirkan duniawi. Ketika beliau wafat pun hanya memiliki satu kain sarung saja, itupun kain sisa-sisa empat sarung lama beliau yang dijahit menjadi satu.

Kebiasan putra-putra kiai dimasa lalu adalah bermukim bersama para santri di bilik kecil asrama santri pondok pesantren. Tempat bermukim beliau di pondok Genggong adalah asrama K persis di belakang masjid Al-barokah Genggong, asrama yang hanya memiliki tiga bilik kecil tersebut beliau tempati bersama sang kakak kiai Nawawi dan beberapa khodim yang mengabdi kepadanya. Keistiqomahan beliau dalam bermunajat kepada Allah, melakukan shalat tahajjud dan shalat dhuha biasa beliau lakukan di asrama tersebut. Bahkan, hingga kini para santri masih sering menggunakan asrama tersebut sebagai tempat tirakat (jalan mendekatkan diri kepada Allah).

Ustadz Mohammad Hasan Qalyubi, salah seorang santri kuno dari pesantren tempat beliau tinggal menyebutkan, beliau dikategorikan sebagai “hinanya manusia dari pandangan fisik kemanusiaan”. Pasalnya, sejak lahir Nun Abdul Jalil menderita lumpuh dan harus dipapah jika hendak berjalan. Namun mengenai pengetahuan ilmu agamanya, beliau terkenal sangat “alim” (sebutan bagi orang yang mahir ilmu agama) meski sama sekali tidak pernah bersekolah. Beliau hanya sempat sekedar belajar kepada Kiai Syamsuddin yang tak lain adalah ipar kakek beliau sendiri yakni KH. Mohammad Hasan Genggong. Sebuah pendapat mengatakan bahwa beliau termasuk salah seorang kiai yang pernah menerima ilmu “ladzunni” (pangkat keilmuan langsung dari Allah melalui jalan karomah). Jika kebanyakan para ulama’ soleh mendapatkan ilmu “ladzunni” dengan cara memakan kayu “iktsir” (kayu yang berasal dari taman surga), namun beliau justru mendapatkan karomah ilmu “ladzunni” tersebut secara langsung.

Ustadz Syaifuddin, seorang “khodim” yang mengabdi selama lima tahun kepada beliau menceritakan bagaimana hal ikhwal datangnya ilmu ladzunni tersebut. Pada suatu saat, Nun Abdul Jalil berkumpul seraya beramah tamah dengan para “khodimnya”. Syaifuddin mencoba memberanikan diri bertanya mengenai asal muasal nama beliau, sang kiai pun tidak keberatan menceritakannya.

Mulanya beliau bercerita tentang seorang pemuda bernama Abdul Jalil di daerah warung dowo pasuruan yang setiap harinya dengan tekun dan sabar berjalan kaki sejauh delapan belas kilometer menuju pesantren Sidogiri untuk menimba ilmu kepada kiai Nawawi. Suatu ketika pemuda tersebut meminta do’a pada kiai Nawawi agar mudah memahami ilmu agama yang telah diajarkan. Kiai Nawawi justru memerintahkan pemuda tersebut untuk selalu membaca surah Yasin sebanyak empat puluh satu kali setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Selama dua tahun lamanya dengan tekun pemuda tersebut senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kiainya. Meski telah cukup lama pemuda tersebut membaca surah Yasin, namun tidak ada perubahan yang berarti pada dirinya. Hingga akhirnya disuatu hari pemuda tersebut berpamitan pada kiai Nawawi untuk berziarah kepada kiai Abu Syamsuddin Batu Ampar Madura. Disanalah kemudian pemuda tersebut bermimpi bertemu nabi khidir yang memintanya memilih harta atau ilmu, dengan hati tulus pemuda tersebut lebih memilih ilmu daripada harta. Sang pemuda kemudian pulang ke Pasuruan, tak lama berselang pemuda tersebut dikenal “alim” ilmu agamanya dan dinikahkan oleh salah seorang putri dari kiai Nawawi Sidogiri.

Mendengar kisah tersebut, Kiai Ahmad Nahrawi ayahanda Nun Abdul Jalil datang bersilaturrahmi kepada pemuda tersebut seraya meminta izin untuk memberikan nama putranya Abdul Jalil dan pemuda tersebut pun mengijinkannya, dari situlah asal muasal nama Abdul Jalil disandangkan pada beliau. ketika Nun Abdul Jalil belum menyelesaikan ceritanya, salah seorang “khodim” karena penasaran kembali bertanya apakah ke”alim”an beliau mengenai ilmu agama sama dengan pemuda bernama Abdul Jalil tersebut. Sontak saja beliau langsung mengalihkan pembicaraan dan mengatakan bahwa dirinya masih bodoh. Nampaknya beliau terlihat menyampaikan pesan bahwa ke“alim”an beliau dalam ilmu agama adalah sebuah berkah dan karomah yang beliau miliki. Pernah disuatu ketika kakak beliau Kiai Ahmad Tuhfah Nahrawi bertanya apakah beliau tidak pernah berdo’a meminta ilmu, beliau menjawab lebih baik berdo’a meminta dibersihkan hati daripada banyak ilmu tapi nantinya justru lupa diri karena hati tidak bersih.

SENANTIASA BERSILATURRAHMI DAN BERZIARAH

Peristiwa-peristiwa ganjil dan sulit diterima akal, tanpa sengaja sering muncul dari sosok Nun Abdul Jalil pada masa hidupnya, sejumlah santri dan khodimnya dibuat tercengang dengan kejadian-kejadian yang mereka alami. Kebiasaan Nun Abdul Jalil bersilaturrahmi kepada para ulama’ dan kegemaran beliau berziarah ke makam para wali mengisahkan sebuah cerita menarik.

Suatu ketika Nun Abdul Jalil bertamu ke rumah salah seorang santri di daerah kecamatan Maron, dengan menggunakan Andong (kereta kuda jaman dulu) beliau bersama khodimnya menyusuri jalan tak rata menuju arah selatan pondok Genggong. Ketika rombongan beliau sampai di rumah santri yang dituju, beliau teringat bahwa kopyah yang biasa dikenakan tertinggal di kediamannya. Kemudian beliau meminta khodim yang menemaninya kembali ke pondok Genggong untuk mengambil kopyah tersebut. Tak berselang lama sang khodim pun kembali dari pondok Genggong dengan tangan kosong tanpa membawa kopyah Nun Abdul Jalil. Rupanya sang khodim baru saja mengalami kejadian magis diluar nalarnnya, pasalnya sang khodim tak kuasa mengangkat kopyah Nun Abdul Jalil dari atas mejanya. Bukan karena kopyah beliau terbuat dari bahan yang berat, namun karena meja tempat kopyah tersebut diletakkan ikut terangkat saat kopyah dibawa. Sambil tersenyum beliau kembali meminta sang khodim kembali ke pondok Genggong untuk mengambil kopyah tersebut, kepada sang khodim beliau menyatakan tidak ada kopyah yang menempel pada meja. Tak ayal sesampainya di kediaman Nun Abdul Jalil, kopyah tersebut ternyata tidak menempel lagi di meja.

tempat mukim Nun Abdul Jalil bersama santri & khodim
Tempat mukim Nun Abdul Jalil bersama santri & khodim
Diketahui bahwa Nun Abdul Jalil belum pernah menunaikan ibadah haji semasa hidupnya. Dimasa itu biaya perjalanan ibadah haji hanya enam puluh ribu rupiah, meski telah bertahun-tahun beliau mengumpulkan uang untuk perjalanan menunaikan haji, namun tetap saja jumlah tabungan beliau tidak mencukupinya. Uniknya, saat beliau bertamu kepada salah satu santrinya yang lain di desa liprak bagian selatan yang baru saja tiba dari tanah suci Makkah usai menunaikan haji, santri tersebut berkali-kali mengucapkan syukur karena telah berkesempatan bertemu beliau saat menunaikan ibadah haji di Makkah, padahal Nun Abdul Jalil jelas-jelas tidak pernah pergi ke Makkah untuk berhaji.

Tidak hanya itu, saat H. Tohir salah seorang santri asal desa Ketompen kecamatan Pajarakan hendak menunaikan ibadah haji, beliau sempat menitipkan salam kepada santri tersebut untuk disampaikan kepada sembilan wali yang dikebumikan di (jabal auliya’) disekitar kota Makkah. Rupanya makam para wali tersebut tidak pernah diketahui oleh khalayak umum, karena tidak pernah tercantum dalam demografi kota Makkah. Santri yang menerima pesan itupun cukup kebingungan terhadap maksud dari salam beliau, karena takdhim kepada sang kiai santri tersebut tetap melakukan tugas yang telah diembannya. Sesampainya di kota Makkah, benar adanya makam sembilan wali tersebut berjejer di sebuah bukit, ironisnya bukit dan makam tersebut tidak pernah tampak karena memang tidak ada di dunia nyata. Usai menyampaikan salam beliau kepada sembilan wali yang dimakamkan di (jabal auliya’) tersebut, bukit dan sembilan makam pun menghilang dari pandangan mata.

KERAP KALI BERJUMPA RASULULLAH & KHIDIR

Umumnya seorang kiai yang menjadi kekasih Allah memiliki karomah baik disaat masih hidup maupun setelah wafat. Tidak asing lagi bagi para santri kuno pesantren Zainul Hasan Genggong mengenai kebiasaan Nun Abdul Jalil mengirim surat kepada nabi Khidir ‘alaihissalam melalui arus sungai yang berada disebelah barat pesantren Genggong. Pada saat-saat tertentu beliau senantiasa mengirimkan surat tersebut ketika sedang meminta rejeki kepada Allah. Jika surat yang beliau kirimkan dengan cepat terbawa arus sungai, maka hal itu merupakan sebuah isyarat bahwa beliau akan mendapatkan rizki. Namun jika surat yang beliau kirimkan melalui arus sungai tersebut hanya diam ditempat beliau melemparkannya, maka pertanda beliau belum mendapatkan rejeki dalam waktu dekat.

Selain kebiasan mengirimkan surat, sering kali nabi Khidir ‘alaihissalam hadir kerumah beliau baik melalui mimpi maupun hadir dalam dunia nyata. Melalui mimpi, Nun Abdul Jalil sering bertemu Rasulullah S.A.W. Tak heran jika dimasa itu setiap kali ada pejabat pemerintah berkunjung ke pesantren Zainul Hasan Genggong, beliau selalu keluar dari lingkungan pesantren. Pasalnya, jika beliau ikut terlibat dalam penyambutan tamu pemerintahan tersebut, Rasulullah S.A.W enggan kembali hadir dalam mimpi-mimpi beliau.

Pernah suatu ketika Rasulullah S.A.W cukup lama tidak hadir menemui beliau, kemudian KH. Mohammad Hasan Genggong memberikan isyarat seraya bertanya apakah beliau tidak pernah didatangi lagi oleh orang yang telah mati. Dengan ijin Allah, Rasulullah S.A.W kembali hadir menemui beliau. Dalam mimpinya, Rasulullah S.A.W pernah menegur beliau karena sempat memikirkan masalah duniawi. Disaat itu beliau tengah menyewa sebidang tanah sawah berukuran kurang lebih dua ratus meter persegi kepada seseorang dengan rencana akan menggarap sawah tersebut untuk ditanami. Kemudian Rasulullah S.A.W hadir ketika beliau tidur dan menanyakan mengapa beliau masih mencintai dunia. Saat terbangun dan tanpa berpikir panjang beliau langsung menyerahkan tanah sawah yang baru saja beliau sewa kepada tetangganya untuk ditanami, beliau menyerahkan sepenuhnya tanpa meminta imbalan apapun.

AHLI DALAM MEMUTUSKAN HUKUM FIQIH

Melalui aliran sungai ini Nun Abdul Jalil mengirim surat kepada Nabiyullah Khidir Alaihissalam
Melalui aliran sungai ini Nun Abdul Jalil mengirim surat kepada Nabiyullah Khidir Alaihissalam
Dikalangan para santri kuno pondok Genggong, selain terkenal kezuhudannya sosok Nun Abdul Jalil juga dikenal mahir mengenai persoalan ilmu agama. Beliau ahli dalam ilmu fiqih dan hadits, beliau juga mahir dalam bidang ilmu ‘arut (ilmu tentang menciptakan sya’ir lagu) dan ta’bir mimpi. Ustadz Sholeh Hasan seorang santri yang sempat mengikuti masa hidup Nun Abdul Jalil menceritakan cara mengajar beliau, kebiasaan beliau mengajar para santri yakni pada pukul tiga dini hari dengan durasi waktu yang hanya sebentar saja sekitar lima hingga sepuluh menit. Cara mengajar beliau juga berbeda dari para kiai lainnya, setiap kali beliau memberikan penjelasan dan keterangan mengenai kitab yang diajarkan, beliau hanya menuliskan beberapa kalimat penting dari isi kitab tersebut. Disamping itu, kitab yang beliau ajarkan kepada para santri hanya ditempelkan saja ke wajah beliau, hal ini mengisyaratkan bahwa beliau telah menghafal dan memahami seluruh isi kitab tersebut. Setelah mengajar beliau hanya berdo’a semoga para santri mendapat ilmu yang barokah.

Dengan kondisi fisik yang memiliki kekurangan tersebut, tidak menjadikan Nun Abdul Jalil dipandang sebelah mata oleh sejumlah kalangan. Beliau sering terlibat dalam beberapa kesempatan untuk memutuskan persoalan hukum Islam pada masa itu. Bahkan beliau selalu dijadikan tempat bertanya pamandanya KH. Hasan Saifourridjal jika terdapat sebuah permasalahan hukum fiqih yang sulit untuk diputuskan. Sebuah sumber menyatakan bahwa pamanda beliau sulit memutuskan sebuah hukum fiqih mengenai masa iddah seorang istri yang telah dicerai suaminya, sang istri mengaku bahwa dirinya belum pernah melakukan hubungan intim dengan suaminya, namun sang suami justru membantah bahwa dirinya pernah melakukan hubungan intim dengan istrinya. Ketika persoalan hukum fiqih tersebut tidak dapat diputuskan oleh para ulama’ dimasa itu, beliau dengan tegas menyatakan bahwa sang istri yang telah diceraikan oleh suaminya tersebut tidak ada masa iddahnya dan boleh dinikahi oleh laki-laki lain.

Pada tahun 1962, terjadi sebuah perbedaan pendapat yang melibatkan sejumlah ulama’ pada masa itu. Perselisihan pendapat terjadi antara KH. Hasan Saifourridjal pengasuh pondok Genggong, KH. Zaini Mun’im pengasuh pondok Nurul Jadid, dan KH. As’ad Syamsul Arifin pengasuh pondok Sukorejo Situbondo. Ketika itu ketiganya adalah pengurus Nahdlatul Ulama’, ketiganya terlibat perselisihan mengenai kontroversi boleh-tidaknya kaum perempuan memainkan drum band. Perlu diketahui pada masa itu merupakan masa penjajahan kolonial Belanda, dimana drum band biasa digunakan oleh orang Belanda sebagai media musik penyambutan tamu dan perang. Persoalan hukum fiqih tersebut semakin rumit dipecahkan karena antara KH. Hasan Saifourridjal yang menghukumi boleh dan KH. Zaini Mun’im yang menghukumi haram perempuan memainkan drum band menggunakan referensi yang sama-sama kuat dan meyebabkan keputusan hukum fiqih tersebut sempat tertunda beberapa saat.

Akhirnya disuatu pagi sekitar pukul 9 Nun Abdul Jalil mendatangi kiai As’ad Syamsul Arifin di Situbondo, beliau menanyakan bagaimana hukum yang benar sesuai dengan keputusan Rasulullah S.A.W. kiai As’ad Syamsul Arifin menyatakan bahwa Rasulullah S.A.W memutuskan boleh kaum perempuan memainkan drum band. Rupanya Rasulullah S.A.W telah terlebih dahulu hadir kepada ulama’ sepuh pengasuh pondok Sukorejo tersebut, kiai As’ad Syamsul Arifin menceritakan bahwa ketika Rasulullah S.A.W menemui beliau didampingi oleh KH. Mohammad Hasan Genggong dan kiai Ahmad Nahrawi Genggong yang tak lain adalah ayahanda Nun Abdul Jalil.
__________________________

Sumber: Majalah Genggong Edisi 3/XII/2011

21 Desember, 2019

Biografi Syaikh Hasan Ma’sum


Biografi Syaikh Hasan Ma’sum

Syaikh Hasan Ma’shum ini lahir di Labuhan Deli, Sumatera Utara pada tahun 1300H/1882M, Syekh Hasan Ma'sum merupakan sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah, meskipun ada klaim bahwa ia juga menganut Tarekat Khalwatiyah. Sebagai sufi tidak membuat Syekh Hasan pasif terhadap kehidupan sosial, bahkan politik. Dalam bidang sosial, ia mendedikasikan diri kepada organisasi Al Jam'iyatul Washliyah dan Al Ittihadiyah sebagai dua organisasi kaum tua yang sangat patuh terhadap fikih Syafi'iyah. Syekh Hasan menilai bahwa Islam akan dapat dikembangkan oleh umat Islam melalui lembaga-lembaga keagamaan secara kolektif.

Syekh Hasan Ma'sum yang merupakan teman sejawat Syekh Muhammad Zain Nuruddin Batu Bara di Makkah, Ulama besar Nusantara asal Batubara, Sumatera Utara, salah seorang murid Syekh Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri. Selain itu, adapula sahabatnya yang lain bernama Syekh Abdul Hamid bin Mahmud Asahan, Syekh Hasan Ma'sum dan Syekh Abdul Hamid Mahmud Asahan keduanya adalah murid dari Syekh Ahmad al-Fathani.

Sedangkan dalam bidang politik, ia menerima tawaran Sultan Kesultanan Deli untuk menjabat sebagai mufti Kesultanan. Sosoknya dikenal sebagai seorang yang berilmu pengetahuan luas, mengajar di madrasah kesultanan, karier dan reputasinya kian cemerlang, hingga akhirnya Sultan Deli saat itu, Sri Sultan Ma’moen al-Rasyid Perkasa Alamsyah (memerintah 1879-1924 M), melantiknya sebagai mufti dan qadhi Kesultanan Deli. Pada awalnya, ia menolak dengan sejumlah alasan, namun akhirnya ia menerima amanah itu, sejak saat itulah ia mendapat gelar Imam Paduka Tuan. Ia juga mengajar di Masjid Raya, Masjid Kesultanan Deli.

Silsilah

Ayah dan Datuk Syekh Hasan hingga beberapa lapis ke atas semuanya adalah Ulama. Mereka berasal dari Pasai (Aceh) sebelum berpindah ke Deli. Sang ayah, yaitu Syekh Ma’shum ibn Abi Bakar Deli, tercatat sebagai Ulama besar Kesultanan Deli pada masanya yang mengajar di madrasah kesultanan tersebut, dan juga seorang guru yang terkenal ketika itu sebagai ahli tasawuf,
bahkan merupakan seorang hartawan yang berpangkat
Syahbandar bergelar Datuk.

Guru beliau

1.Syekh Muhammad Ma'shum bin Abi Bakar ad-Dali
2.Mr. Henry
3.Syekh Abdul Salam Kampar
4.Syekh Ahmad Khayyat
5.Syekh Ahmad Khatib Minangkabau
6.Syekh Muhammad Amin Ridwan al-Madani
7.Syekh Abdul Qadir bin Shabir al-Mandaili
8.Syekh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki
9.Syekh Abdul Hamid Kudus
10.Syekh Saleh Bafadhal
11.Syekh Utsmân Tanjung Pura
12.Syekh Sa‘id al-Yamani
13.Syekh Abdul Karîm ad-Dagestani

Murid beliau

1.Syekh Muhammad Yunus
2.Syekh Muhammad Baharuddin Thalib Lubis
3.Syekh Muhammad Arsyad Thalib Lubis
4.Haji Abdurrahman Syihab
5.Haji Ilyas
6.Syekh Zainal Arifin Abbas
7.Haji Mahmud Abu Bakar
8.K.H. Shaleh
9.Abdul Malik
10.Ustaz Adnan Lubis
11.Ustaz Muhammad Yusuf Ahmad Lubis
12.Ustaz Muhammad Arifin Isa
13.Ustaz Bahrun Saleh Nasution
14.Ustaz Bahrum Ahmad
15.Zakaria Abdul Wahab
16.Ali Usman
17.Muhammad Yusuf
18.Abdul Rauf
19.Suhailuddin
20.Kudin

Ketokohan dan pengaruh beliau

1 Ulama Kesultanan Deli
2 Pengajar Masjidil Haram
3 Mufti Mazhab Syafi'i Kesultanan Deli
4 Mufti & Qadhi Kesultanan Deli
5 Imam & Pengajar Masjid Sri Sultan Ma’moen al-Rasyid Perkasa Alamsyah
6 Pendiri Madrasah Hasaniyah
7 Penasihat Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah
8 Ketua Majelis Fatawa Al Jam’iyatul Washliyah
9 Penasihat Badan Chazanatul Islahijah Al Jam'iyatul Washliyah
10 Penasihat Pengurus Besar Al-Ittihadiyah
11 Ahli Ilmu Ilmu Falak, Hisab, fikiq dan tasawuf

Karya-karya Tulisnya:

1.      Kutufatussaniyah : Berbicara Tentang Talaffus dengan niat.

2.      Samirussahibyan : Berbicara Tentang Fiqih.

3.      Tazkirul Muriddin : Bahagian Tasawuf.

4.      Dhararul Bhayan : Menerangkan Tauhid.

5.      Fathul wudud : Menyatakan salah keadan niat.

6.      Tankihuz zunun : Berbicara masalah maimun.

7.      Targhibul mustakim : Berbicara mendirikan Jum’at

8.      Isfa’aful Muridin : Berbicara Rabithah.

9.      Maqalatun Nafiyah : Berbicara Kabliyah Jum’at.

10.  Sarimul Mumayyiz : Berbicara takliq dan Ijtihat.

11.  Ittihaful Ikhwan : Berbicara Kaipiyat Yassin, Mumfariyah, Ratib hadad, Doa.

12.  Jadwal Buat Mengetahui Waktu.

13.  Natiyah Abadiyah : untuk mengetahui awal waktu dan lain-lain.

14.  Durrul –Muhazzab : Berbicara Rubu’ Mudyaijab dalam bahasa Arab.

15.  Nubzatul- Lukluiyah : Menerangkan Rabithah, dengan bahasa Arab.

16.  Sullamus –Salikin : Bacaan wirid

17.  Kaifiat dan Salsilah Talkin Zikir : ( Khusus).

Wafat

Kendati telah menjadi ulama terkemuka, Syekh Hasan tidak pernah menghentikan kegiatan akademik, mengajar dan belajar.
Dengan berbagai kesibukan, ia terus mengajar umat Islam secara formal maupun non-formal, terutama di Madrasah Hasaniyah dan Masjid Raya al-Mashun, terutama dalam bidang fikih dengan menggunakan kitab-kitab standar dalam Mazhab Syafi'i. Ia juga tidak pernah puas mendalami ilmu-ilmu agama, meskipun telah menduduki jabatan tertinggi dalam bidang keagamaan, selalu membaca kitab dan mendiskusikan masalah-masalah agama sampai menjelang subuh, dan akhirnya tradisi akademik tersebut membuatnya jatuh sakit selama enam bulan.

Syekh Hasan Ma’shum Deli terus berkhidmah sebagai pengajar sekaligus mufti Kesultanan Deli hingga wafat, di Medan, pada usia kurang lebih 53 tahun,menurut perhitungan tahun masehi, yakni pada hari Kamis, 24 Syawal 1355 H/7 Januari 1937 M,setelah berbulan-bulan menderita penyakit,dan dimakamkan di perkuburan Masjid Raya al-Mashun, tidak jauh dari Istana Kesultanan Deli. Menurut dokter, kebiasaan membaca sampai menjelang subuh membuat urat yang menghubungkan ke otaknya tertutup. Wafatnya Syekh Hasan Ma'shum, bukan saja dirasakan pilu oleh keluarga, murid-muridnya. Begitu juga oleh Al Jamiyyatul Al Washliyah bahkan seluruh ummat Islam di Indonesia dan di luar Indonesia.

Meskipun telah menjadi ulama besar dan menduduki jabatan keagamaan terpenting, Syekh Hasan tetap terus menggali ilmu, menulis banyak karya akademik, serta menjadikan keheningan malam sebagai waktu terbaik untuk menelaah kitab-kitab agama dan menyelesaikan persoalan-persoalan akidah dan hukum Islam. Usia tua, pangkat, dan jabatan tidak membuat Syekh Hasan menjadi lalai mengkaji ilmu dan menulis karya akademik bermutu. Alfatihah

Sumber:
* ^ Rozali 2017, hlm. 279, dengan merujuk kepada Institut Agama Islam Negeri al-Jamiah Sumatra Utara 1975, hlm. 7, dalam Sejarah Ulama-Ulama Terkemuka di Sumatra Utara (Medan: Islamyah, 1975)
* Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, 2010) ; dikutip dalam Ja'far 2015, hlm. 273 .
* Biografi Intelektual Ulama-Ulama Al Washliyah (Medan: Centre for Al Washliyah Studies, 2012)