19 Desember, 2019

Kisah Kiai Telingsing, Ulama Tionghoa Penyebar Islam di Kudus


Kisah Kiai Telingsing, Ulama Tionghoa Penyebar Islam di Kudus

Nama asli Kyai Telingsing adalah The Ling Sing, itu adalah nama asli dari Tiongkok, China. Karena orang kudus sulit untuk melafalkannya . Ayahnya berasal dari Arab yang disebut juga dengan “Abah Arab” dan ibunya berasal dari Cina, disebutkan dari Cina karena dulunya belum ada Tionghoa, yaitu Ny. Denok. Ia adalah orang pertama yang memperjuangkan agama Islam di Kudus. Ia di beri wasiat dari Abah Arabnya: “Nek kowe kepengen mulyo donyo lan akherat, jejakku teruske ngulon,” yang artinya jika dia ingin mulia di dunia dan di akhirat, maka Kyai Telingsing harus meneruskan dakwah ayahnya ke Kudus. Pada waktu itu penduduk Kudus  masih beragama Hindu-Budha. Yang dimaksud “jejak” di sini adalah tujuan, dan “ngulon” itu Indonesia karena Cina itu berada di sebelah baratnya Indonesia. Tidak ada yang tahu bagaimana cara mbah kyai Telingsing pindah dari Cina ke Indonesia, karena jika dipikirkan secara logika tidak mungkin karena pada zaman dahulu belum ada kendaraan. Kata mbah Munawir Ia mendapat sap wangin atau yang sering disebut dengan sapu jagat

Pada waktu itu, Sunan Kudus diperintah oleh Raden Patah berdakwah di Kudus. Sunan Kudus pun berguru kepada Kyai Telingsing sehingga mereka berdakwah bersama-sama. Dalam segi kekayaan, mereka berdua sangat berbeda, Sunan Kudus adalah orang seneng donyo. Sehingga penduduk Kudus Kulon tepatnya daerah Kauman (sekitar Menara Kudus) memiliki rumah berornamen kayu ukir. Adapun Kyai Telingsing tidak punya harta, tetapi banyak orang yang meminta keterangan tentang beliau. Mereka mendapatkan banyak umat termasuk kaum muda. Banyak dari kaum muda yang ingin menyembelih sapi, tapi Kyai Telingsing dan Raden Fatah melarangnya. Keduanya mengatakan “Sapi iku disembah wong Budho, lha nek sapi mbok sembeleh podo wae kowe tukaran karo wong Budho” yang artinya: sapi itu disembah oleh orang Budha, jika sapi itu kamu sembelih sama saja kamu bertengkar sama orang budha. Larangan menyembelih sapi oleh Sunan Kudus dan Kyai Telingsing, sampai sekarang budaya tersebut masih ada. Terutama daerah menara Kudus.

Sunggingan, kata “nyungging” bermakna mengukir sakjerone kendi. Dan Sunggingan itu ditambahi sendiri. Asal  mula nama daerah ini ketika Kyai telingsing disuruh mengukir sebuah kendi. Dan kendi itu dibuat menjadi hadiah untuk negara lain. Tapi yang diukir adalah bagian dalamnya, maka Sunan Kudus marah dan membanting kendi maka pecahlah kendi itu. Dan pada dasar kendi terdapat tulisan kalimat thoyyibah. Tidak ada yang tahu cara kyai Telingsing mengukir bagian dalam kendi.

Kyai Telingsing dijuluki sebagai Ulama besar oleh pengikutnya, bahkan seorang dokter non islam juga yang buka praktek di dekat rumahnya. Makamnya sering dijadikan tempat wasilah, banyak orang luar daerah yang ke makam untuk wasilah. Menurut warga, makamnya sangat keramat.

Bp Munawir sebagai Juru Kunci Mbah Kyai Telingsing baru 15 tahun. Beliau menjadi juru kunci karena turun menurun. Sebelum beliau kakaknya yang menjadi juru kunci, dan pada saat itu kakaknya masih berumur 13 tahun karena ayahnya meninggal. Kakaknya menjadi juru kunci pada umur 13 -73/75 tahun. Rumah Bapak Munawir, disinilah saya melakukan saya wawancara. Rumahnya berada didepan masjid, rumah beliau dekat dengan makam Kyai Telingsing.

Juru Kunci tersebut menuturkan bahwa makam Kyai Telingsing sangat keramat. Sehingga banyak dikunjungi oleh orang-orang sebagai jalan washilah. Seperti orang yang terlilit hutang, tidak punya uang, dan kasus ekonomi lainnya. Saat penulis mengunjungi makam pun ada tiga orang yang sedang berziarah. Namun bagi orang yang tidak  ingin kena bala’, mereka cenderung menghindari lewat di sekitar makam Kyai Telingsing.

Bapak Munawir, sebagai juru kunci, membukakan makam Kyai Telingsing dan membawa kami ke depan makam sebagai tamu. Beliau mengajarkan kami bagaimana etika masuk ke makam dengan benar. Pertama, kita harus melepas alas kaki untuk masuk ke serambi makam. Selanjutnya, kita harus mengucap salam, dan bersikap sopan. Saat sampai di depan makam Kyai Telingsing, beliau memimpin doa. Lalu menyilakan kami untuk berwasilah.

Terlihat ada ikatan antara juru kunci dengan Kyai Telingsing karena beliau berkisah sempat ditemui Kyai Telingsing beberapa kali lewat mimpi. Sehingga ada sorot kekaguman saat beliau menceritakan tentang Kyai Telingsing. Bahkan saat beliau memintakan ijin penulis untuk mengambil beberapa foto, Pak Munawir Nampak seperti sedang bercakap-cakap langsung dengan Kyai Telingsing.

Warga setempat memandang makam tersebut seperti halnya makam pendiri desa. Mereka merawat makam, mengadakan buka luwur, bahkan salah satu warga ada yang rela menyapu seluruh area pemakaman murid Kyai Telingsing di sekitar makam utama. Sebut saja Zulikah, nenek berumur enam puluh tahunan itu rela menyapu daun-daun kamboja yang gugur di seluruh area pemakaman setiap hari.

Makam Kyai Telingsing

Itu sudah menjadi bukti bahwa meskipun Kyai Telingsing sudah tiada, namun wibawanya masih terpancar. Seluruh Sunggingan menghormatinya sebagai ulama besar pertama yang mendakwahkan Islam di Kudus. Tentu nama Kyai Telingsing telah sangat dikenal oleh para ulama, sejarawan, bahkan muslim tionghoa. Semua kagum pada perjuangan dan kegigihan Kyai Telingsing

Lokasi Makam Kyai Telingsing Sunggingan Kudus masih berada di dalam kota, namun agak masuk ke dalam dari jalan besar. Makam ini bisa diakses dari Jl Kyai Telingsing, dengan lintasan cukup panjang dan agak berkelok dan belum sepenuhnya dipetakan oleh Google Maps. Bisa juga diakses lewat Jl. DR. Wahidin Sudirohusodo yang jaraknya lebih dekat dan mobil bisa masuk hingga ke dekat makam. alfatihah


Sumber :

Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam, 2008, Bandung: Pustaka Setia.
Hal 13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar